Stres yang kita alami merupakan masalah tersendiri yang perlu mendapatkan perhatian lebih, karena jika mengalami stres pada tingkat tinggi atau berlebihan cenderung akan menjadi tidak optimal dalam beraktvifitas. Untuk mengetahui stres yang terjadi pada kita, maka perlu diketahui dahulu tentang pengertian stres, penyebab stres, gejala– gejala stres,

dampak stres terhadap individu, serta cara mengatasi stres  atau yang sering disebut sebagai manajemen stres.

1. Pengertian Stres

Hariandja (2002) mendefinisikan stres sebagai situasi ketegangan atau tekanan emosional yang dialami seseorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan, dan adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Menurut penelitian Baker dkk (Rini, 2002) stres yang dialami oleh seseorang akan merubah cara  sistem kekebalan tubuh. Brealey (2002) memberikan definisi stres sebagai suatu respon psikologis dari tubuh terhadap tekanan yang diterimanya, khususnya berbagai kejadian yang mengancam, menantang, atau mengandung unsur perubahan. Ketika tuntutan yang dibebankan pada seseorang berlebihan atau melebihi kemampuan yang dimiliki maka akan membuat seseorang tersebut berada dibawah stres yang berlebihan.

Menurut Morgan (Karman & Suyasa, 2004) stres adalah suatu keadaan internal yang ditimbulkan oleh adanya tuntutan fisik atau disebabkan oleh lingkungan dan situasi sosial yang dinilai membahayakan, tidak terkontrol atau mengancam keberdayaan diri seseorang. Keadaan internal disini merupakan suatu kondisi atau perasaan subyektif yang hanya dirasakan oleh individu yang mengalaminya. Schult dan Schult (Bachroni & Asnawi, 1999) mengatakan bahwa stress merupakan gejala psikologis yang dirasakan mengganggu dalam pelaksanaan tugas sehingga dapat mengancam eksistensi diri dan kesejahteraan. Stres  pada intinya merujuk pada kondisi dari pekerjaan yang mengancam individu. Stres  timbul sebagai bentuk ketidakharmonisan individu dengan lingkungan.

Dari beberapa teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa stres merupakan bentuk respon psikologis dari tubuh terhadap tekanan-tekanan, tuntutan tuntutan yang melebihi kemampuan yang dimiliki, baik berupa tuntutaan fisik atau lingkungan dan situasi sosial yang mengganggu pelaksanaan tugas, yang muncul dari interaksi antara individu, dan dapat merubah fungsi fisik serta psikis yang normal, sehingga dinilai membahayakan, dan tidak menyenangkan.

2. Sumber stres

Semakin berkembang dan majunya teknologi, tuntutan untuk menjadi yang lebih baik membuat persaingan dalam dunia  makin pesat dan makin ketat, sehingga menuntut kinerja yang lebih maksimal, stres  dapat disebabkan oleh :

  1. Sumber stres dari organisasi (seperti tuntutan-tuntutan, dan tanggungjawab yang besar), struktur organisasi, hubungan dalam organisasi, keberadaan organisasi, dan hubungan organisasi dengan pihak luar.
  2. Sumber stres dari kehidupan, seperti kehilangan pasangan hidup.
  3. Kondisi pekerjaan, seperti kondisi lingkungan, baik lingkungan  maupun lingkungan kehidupan, overload, deprivational stress, pekerjaan berisiko tinggi dan iklim.
  4. Ambiguitas dalam berperan dan faktor interpersonal.
  5. Perkembangan karir.
  6. Cita-cita, dan ambisi.
  7. Kurangnya kontrol yang dirasakan.
  8. Diri individu, seperti usia, kondisi fisik, dan faktor kepribadian.

Menurut Cary Cooper (Rini, 2002) sumber stres  ada lima yaitu sebagai berikut :

1. Kondisi Pekerjaan.

a) Lingkungan .

b) Overload.

c) Deprivational stress.

d) Pekerjaan beresiko tinggi.

2. Konflik Peran.

Perusahaan yang mempunyai struktur organisasi yang kurang jelas, yaitu seperti perusahaan yang tidak mempunyai garis-garis haluan yang jelas, aturan main, visi dan misi yang sering kali tidak dikomunikasikan pada seluruh kita. Konflik peran juga dihadapkan pada wanita terutama yang sudah menikah, serta ketidakjelasan pekerjaan yang diberikan perusahaan pada kita.

3. Hubungan Interpersonal.

Hubungan yang tidak baik dapat dilihat dari gejala-gejalanya seperti rendahnya minat dalam memecahkan masalah yang ada dalam organisasi, dan kepercayaan yang rendah. Adanya dukungan dari rekan, keluarga, atau pihak manajemen diyakini dapat menghambat timbulnya stres.

4. Pengembangan Karier.

Bayangan akan kesuksesan karir sering kali tidak sesuai dengan yang ada dikenyataan. Impian dan cita-cita untuk mencapi prestasi dan karir yang baik sering kali tidak terlaksana dikarenakan adanya ketidakjelasan sistem pengembangan karir dan penilaian prestasi, budaya nepotisme dalam manajemen perusahaan, dan tidak adanya kesempatan lagi untuk naik jabatan.

5.  Struktur Organisasi.

Struktur organisasi berpotensi menimbulkan stres apabila diberlakukan secara kaku, kurang adanya kepedulian dari pihak manajemen pada inisiatif kita, tidak pernah melibatkan kita dalam pengambilan keputusan, dan tidak adanya dukungan untuk kreativitas kita.

3. Gejala-gejala stres

Stres  yang terjadi pada kita dapat diketahui dengan melihat gejala-gejala atau tanda-tandanya, sehingga dapat menentukan apa yang harus dilakukan, ada beberapa tanda-tanda stres dan gejala-gejala stres dibagi kedalam lima kelompok yaitu :

a. Gejala psikologis.

Kecemasan, ketegangan, bingung, marah, sensitive, memendam perasaan, komunikasi tidak efektif, mengurung diri, depresi, merasa terasing dan mengasingkan diri, kebosanan, ketidakpuasan , lelah mental, menurunnya fungsi intelektual, kehilangan daya konsentrasi, kehilangan spontanitas dan kreatifitas, kehilangan semangat hidup, serta menurunnya harga diri dan rasa percaya diri.

b. Gejala fisik.

Meningkatnya detak jantung dan tekanan darah, meningkatnya sekresi adrenalin dan noradrenalin, gangguan lambung (gangguan gastrointestinal), mudah terluka, mudah lelah secara fisik, kematian, gangguan cordiovaskuler, gangguan pernafasan, lebih sering berkeringat, gangguan pada kulit, kepala pusing (migrant), kanker, ketegangan otot serta problem tidur (seperti sulit tidur, terlalu banyak tidur).

c. Gejala perilaku.

Menunda ataupun menghindari pekerjaan / tugas, penurunan prestasi dan produktivitas, meningkatnya penggunaan minuman keras dan mabuk, perilaku sabotase, meningkatnya frekuensi absensi, perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan atau kekurangan), kehilangan nafsu makan dan penurunan drastis berat badan, meningkatnya kecenderungan perilaku beresiko tinggi, seperti ngebut, berjudi, meningkatnya agresivitas dan kriminalitas, penurunan kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman, serta kecenderungan bunuh diri.

4. Dampak dari stres

Secara umum stres  memiliki dampak yang merugikan baik bagi individu maupun orang lain. Tingkatan stres ada bermacam-macam, dan oleh Brealey (2002) dibagi dalam empat tingkatan yaitu sebagai berikut :

  1. Stres yang terlalu rendah : kurangnya tantangan akan menimbulkan kebosanan, produktifitas rendah dan kurangnya prestasi pribadi. Hal ini akhirnya akan berkontribusi pada kepercayaan diri yang rendah, dan kurangnya tujuan hidup.
  2. Stres yang optimal : jumlah stres yang tepat dalam hidup akan memampukan seseorang untuk memanfaatkan peluang, bangkit untuk menghadapi tantangan, dan memperluas batasan seseorang. Seseorang akan memutuskan untuk menghadapi berbagai masalah dalam langkah-langkahnya dan memperoleh kepuasan dari sebuah pekerjaan atau dari pekerjaan yang telah diselesaikan dengan baik.
  3. Terlalu banyak stres : selain kelelahan mental dan fisik, individu akan mendorong dirinya sendiri untuk terus be, tapi dengan mengurangi imbalannya. Dengan mendorong diri sendiri secara terus-menerus sampai melewati batas, akan membuatnya terus menambah kecepatan dan akhirnya menyadari bahwa tidak dapat berhenti dan rileks.
  4. Kelelahan  : tanda-tanda peringatan yang menyatakan bahwa kita berada dibawah stres yang berlebihan, apabila kita tidak mengindahkannya, maka kita sangat berpeluang untuk jatuh sakit, baik secara mental maupun fisik. Yang terbaik adalah kinerja yang berubah-ubah.

Dampak Terhadap Individu.

Dampak stres  bagi individu adalah munculnya masalah – masalah yang berhubungan dengan kesehatan, psikologis dan interaksi interpersonal.

1) Kesehatan.

Sistem kekebalan tubuh manusia be sama secara integral dengan sistem fisiologis lain, dan kesemuanya berfungsi untuk menjaga keseimbangan tubuh, baik fisik maupun psikis yang cara nya diatur oleh otak. Seluruh sistem tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh faktor psikososial seperti stres dan immunocompetence. Jadi tidak heran jika orang yang mudah stres, mudah terserang penyakit.

2) Psikologis.

Stres yang berkepanjangan akan menyebabkan ketegangan dan kekhawatiran yang terus menerus. Menurut istilah psikologi, stres berkepanjangan ini disebut stres kronis. Menurut Miller (Rini, 2002) akar dari stres kronis adalah dari pengalaman traumatis di masa lalu yang terinternalisasi, tersimpan terus dalam alam bawah sadar.

3) Interaksi interpersonal.

Orang yang sedang stres akan lebih sensitif dibandingkan orang yang tidak dalam kondisi stres. Oleh karena itulah, sering terjadi salah persepsi dalam membaca dan mengarahkan suatu keadaan, pendapat atau penelitian, kritik, nasehat, bahkan perilaku orang lain. Pada tingkat stres yang berat, orang bisa menjadi depresi, kehilangan rasa percaya diri dan harga diri. Akibatnya orang tersebut lebih banyak menarik diri dari lingkungan, tidak lagi mengikuti kegiatan yang biasa dilakukan, jarang berkumpul dengan sesamanya, lebih suka menyendiri, mudah tersinggung, marah, dan mudah emosi. Tingginya sensitivitas emosi berpotensi menyulut pertikaian dan menghambat sama antara individu satu dengan yang lain.

5. Manajemen stres

Stres tidak dapat dihindari. Namun demikian, dengan memahami stressor dan stres itu sendiri, kita dapat meminimalkan stres yang tidak diperlukan. Childre (2001) mengemukakan metode yang dapat digunakan untuk mengelola stres, yaitu metode freeze-frame yang mempunyai lima langkah sebagai berikut :

  1. Kenali perasaan penuh tekanan,
  2. Buatlah usaha nyata untuk mengalihkan fokus dari pikiran-pikiran yang berpacu atau emosi yang terganggu ke daerah-daerah disekitar jantung,
  3. Ingatlah selalu suatu persoalan yang positif dan menyenangkan atau saat-saat dalam hidup yang membangkitkan perasaan positif serta berusahalah untuk mengulanginya lagi,
  4. Menggunakan intuisi, pikiran yang sehat dan kesungguhan, tanyakan pada diri sendiri respon apa yang lebih efisien terhadap situasi yang dapat meminimalkan ketegangan yang timbul,
  5. Dengarkan apa yang dikatakan hati sebagai jawaban.

Seorang ahli terkenal di bidang kesehatan jiwa Jere Yates (Rini, 2002) mengemukakan ada delapan (8) aturan yang harus diikuti dalam mengatasi stres, yaitu :

  1. Pertahankan kesehatan tubuh sebaik mungkin, usahakan berbagai cara agar tidak jatuh sakit.
  2. Terimalah diri sendiri apa adanya, segala kekurangan dan kelebihan, kegagalan maupun keberhasilan sebagai bagian dari kehidupan diri.
  3. Tetaplah memelihara hubungan persahabatan yang baik dengan seseorang yang dianggap paling bisa diajak curhat. Lakukan tindakan positif dalam mengatasi sumber stres dalam pekerjaan.
  4. Lakukan tindakan konstruktif dalam mengatasi sumber stres dalam pekerjaan, misalnya segera mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi dalam pekerjaan.
  5. Tetap memelihara hubungan sosial dengan orang – orang diluar lingkungan pekerjaan, misalnya dengan tetangga atau kerabat dekat.
  6. Berusaha mempertahankan aktivitas yang kreatif diluar pekerjaan, misalnya berolahraga atau rekreasi.
  7. Melibatkan diri dalam pekerjaan – pekerjaan yang berguna, misalnya kegiatan sosial dan keagamaan..

Sumber

As’ad, M. 1999. Psikologi Industri (Seri Ilmu Sumber Daya Manusia).

Yogyakarta : Liberty

Brealey, Erika. 2002. Seri 10 Menit Menghilangkan Stres (terjemahan

Sara C.Simanjuntak). Batam : Karisma Publishing Group

Childre, D. 2001. Mengatasi Stres Dalam Satu Menit : Freeze-Frame (terjemahan

Tim Prestasi Pustaka). Jakarta: Prestasi Pustaka

Rini, Jacinta F. 2002. Stres . Jakarta: Team e-psikologi.com                                                                             http://www.epsikologi.com/masalah/stres.htm

Sarwoto. 1981. Dasar – dasar Organisasi dan Manajemen. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Thoha, Miftah. 1995. Perilaku Organisasi (Konsep Dasar Dan Aplikasinya).

Jakarta : Rajawali Pers.